Bermain dengan Angka Seri 2

targetpreview-bda2

targetpreviewnew

Judul: Bermain dengan Angka Seri 2

Penyusun: Erna M. S.

Penerbit: Pencil Books, Jakarta

 

 

Teori Peluru

Teori peluru atau bullet theory adalah nama yang diberikan peneliti terhadap konsepsi pertama tentang efek komunikasi massa. Disebut juga sebagai teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) atau transmisi (tranmision belt theory) (De Fleur & Rokeach, 1982). Pada dasarnya pandangan ini naif dan simplistik, yang menganggap efek-efek pesan komunikasi massa demikian kuat dan kurang lebih bersifat universal pada seluruh audiens yang mendapat terpaan media.

Seri Mewarnai Buku Ceritaku: Menyayangi Makhluk Allah

targetpreview-promo-mma-ok

Seri Mewarnai Buku Ceritaku

Judul: Menyayangi Makhluk Allah

Penulis: Tim Pencil Books

Ukuran Buku: 28 x 21 cm

Tebal: 16 halaman

Harga: Rp 10.500,-

Penerbit: Pencil Books, Jakarta

Teknik Wawancara

Menurut Moleong (Moleong 2004: 135), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara, sebagai orang yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai, sebagai orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

 

Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut (Banister dkk., 1994 dalam Kristi Poerwandari, 2001: hal. 75).

metodologi kualitatif

Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2004: 3), metodologi kualitatif didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistic (utuh). Jadi, dalam hal ini, tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandang sebagai bagian dari suatu keutuhan.

 

Kirk dan Miller (dalam Moleong, 2004: 3) mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.

 

Pada penelitian kualitatif, Neuman (1997: 14) menyebutkan bahwa fokus penelitian kualitatif terletak pada proses interaktif, konstruksi realitas sosial, otentisitas merupakan kunci, value are present and explicit, situationally constrained, analisis tematik, dan peneliti terlibat.

Metode Focus Group Discussion

Focus Group Discussion dapat dikatakan sebagai metode diskusi yang direncanakan dan bertujuan untuk menjaring persepsi serta sikap atas topik yang didiskusikan secara terbuka dalam suasana proaktif. Peserta diskusi saling memengaruhi atas ide dan pendapat yang diutarakan dalam diskusi tersebut.

 

Pelaksanaan Focus Group Discussion tidak bertujuan mencari konsensus, tidak mencari pemecahan masalah, dan tidak bertujuan memberikan rekomendasi atau membuat keputusan. (Krueger, 1990), (Hoed, 1995).

 

Focus Group Discussion memiliki validitas yang tinggi untuk mengukur persepsi para partisipannya terutama karena dapat dipercayainya komentar-komentarnya daripada partisipan tersebut. Mereka dapat mengemukakan penilaiannya secara bebas dan langsung kepada peneliti tanpa melalui perantara atau harus mencocokkan persepsinya dengan kategori-kategori yang telah dibuat peneliti. (Krueger, 1990).

 

Focus Group Discussion telah digunakan dalam diskusi dari berbagai aspek media, mulai dari opera sabun tayangan televisi program untuk anak sampai isu politik. Dalam aplikasinya, peneliti menggunakan perangkat eksploratori untuk menghasilkan ide dan bahan-bahan untuk pengumpulan data pada skala yang lebih besar dengan menggunakan kuesioner. Bagaimana pun, penggunaan metode Focus Group Discussion ini kemungkinan sangat berguna dalam mencapai tujuan studi yaitu untuk mengoleksi data yang banyak yang dapat dianalisis dari perspektif interpretative (David Giles, 2003: 39).

Seri Kreativitas Nana

 

Seri Kreativitas Nana adalah ekspansi dari Little Nana Series. Dalam seri ini, anak disuguhkan tidak hanya cerita yang menarik, tapi juga berbagai aktivitas yang dapat menunjang kreativitas mereka. Pasti akan sangat menyenangkan bagi putra-putri Anda.

Konsep Framing

James Tankard mendefinisikan framing media sebagai pusat organisasi ide untuk isi berita yang menghasilkan konteks dan usulan apa isu yang melalui kegunaan seleksi, emphasis, exclusion, and elaboration. Keempat kata tersebut mengusulkan bahwa media tidak hanya menyeting agenda untuk isu-isu apa, kejadian-kejadian, tapi mereka juga mentransfer atribusi khusus yang menonjol dari suatu objek yang menarik (Em Griffin, 2003).

 

Dalam suatu penulisan berita surat kabar, para wartawan atau penulis berita memiliki peran strategis dalam mengemas, merangkai, dan membingkai suatu cerita atau dalam menonjolkan suatu fakta dalam berita, yang dikenal sebagai framing. (Straubhaar dan LaRose. 2002) mengatakan bahwa penulis menentukan apa yang hendak ditampilkan dalam pemandangan, bingkai atau cerita, dan apa saja yang tidak perlu dimasukkan di dalamnya. Intinya adalah pembentukan konteks cerita.

Konsep Priming

Bryant and Thompson membagi konsep priming dalam 2 perspektif. Pertama, priming terjadi pada saat seseorang membaca atau menonton suatu cerita pada media yang mengaktifkan pikiran atau perasaan yang telah tersimpan di dalam benak pikiran sebelumnya karena pengaruh pembelajaran dan pengalaman di masa lampau. Kedua, priming diartikan sebagai terpaan media yang memengaruhi perilaku seseorang sehingga melakukan tindakan yang tidak diinginkan, misalnya meniru tindak kriminal. (Bryant Jennings and Susan Thompson, 2002).

 

McLeod, Kosicki, dan McLeod memberikan pengertian kunci dari priming. Mereka mengatakan bahwa penggunaan media, terpaan terus-menerus pada isi tertentu dari media akan mengaktifkan suatu konsep yang dalam kurun waktu tertentu akan menambah probabilitas bahwa konsep itu serta pikiran ingatan (memori) yang berhubungan dengannya akan hadir kembali dalam benak seseorang pada saat diperlukan di kemudian hari (J. Bryant and D. Zillman (Eds). 2002).

 

Menurut L. Berkowits, efek priming terjadi bila pengaktifan suatu pikiran, gagasan, atau ide dapat mengaktifkan pikiran, gagasan atau ide lain yang berhubungan. Contoh, bila kita melihat film kartun dengan seorang karakter memukul seorang anak yang tak berdaya dengan sebuah palu, maka hal ini dapat memengaruhi kita untuk (secara tak sadar) melakukan tindakan yang sama (Straubhaar dan LaRose, 2002).

Teori Kultivasi

Hipotesis umum dari analisis kultivasi adalah orang yang lebih lama ‘hidup’ dalam dunia televisi lebih melihat dunia nyata seperti gambaran, nilai-nilai, potret, dan ideology yang muncul pada layar televisi. (J. Bryant and D. Zillman (Eds), 2002). Hipotesis ini menjelaskan bahwa realitas sama dengan yang ada di televisi.

 

Hawkins dan Pingree (1982) menemukan model proses kultivasi, yaitu bahwa proses kultivasi dalam pikiran kita terbagi dua, yaitu learning dan constructing. (J. Bryant and D. Zillman (Eds), 2002). Apa yang dilihat oleh audiens kemudian akan melalui tahap belajar dan diikuti tahap mengkonstruksi dalam pikiran audiens tersebut. Betapa dapat dibayangkan, banyaknya adegan-adegan kekerasan di televisi dapat membangun pikiran yang ’keras’ terhadap audiensnya.